Ilmu Parenting

Barangsiapa menghendaki dunia, maka haruslah dengan ilmu. Barangsiapa menghendaki akhirat, maka haruslah dengan ilmu. Dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka juga haruslah dengan ilmu. (HR Ibnu ‘Asakir dari Ali RA.)

Hadits di atas menekankan pentingnya kita mempunyai dasar ilmu atas segala yang kita lakukan. Baik untuk tujuan kabaikan di dunia maupun di akhirat. Di dunia ini, segala keterampilan dan kegiatan tentu ada ilmunya. Membesarkan dan mendidik anak juga ada ilmunya. Dalam ilmu fiqih Islam terdapat istilah hadhonah, dalam bahasa Inggris, dikenal istilah parenting. Ilmu parenting atau ilmu pengasuhan merupakan gabungan dari banyak disiplin ilmu lain di antaranya: psikologi, kesehatan, keterampilan, ilmu gizi, ilmu komunikasi, ilmu keuangan, bahkan informatika.

Saat ini ilmu parenting belum menjadi disiplin ilmu yang populer. Sumber-sumber ilmu parenting pun jumlahnya masih sangat terbatas. Di antara kita masih banyak yang menganggap pengasuhan anak tidak memerlukan ilmu atau pembelajaran khusus. Termasuk saya. Kurang sekali ilmu tentang itu. Pengasuhan anak hanya bersumber dari para orang tua dan lingkungan terdekat. Makanya setuju banget dengan ide mbak Neno Warisman pagi tadi di metrotv tentang usulannya agar ilmu parenting dimasukkan dalam kurikulum di SMA dan perguruan tinggi agar dihasilkan generasi penerus bangsa ini yang lebih berkualitas. Bagaimana dihasilkan calon ayah dan calon ibu yang shalih dan shalihah dalam keluarga kecil yang nantinya berkontribusi pada kemajuan suatu negara.

Parenting nabawiyah, konsep orisinil Nabi Muhammad SAW tentang parenting. Parenting nabawiyah tidak memulai sebuah konsep dari penelitian, tapi jsutru berawal dari Al Qur’an dan Hadis.

Nabi memulai konsep parenting sejak memilih pasangan. Dari tempat dijatuhkannya nutfah. Makanya Nabi merasa perlu sekali untuk ikut campur dalam proses pernikahan sahabat. Sehingga Nabi lah yang secara langsung memilihkan pasangan bagi para sahabat.

Syekh Muhammad Quthb mengatakan Allah sengaja membuka mulut anak-anak di waktu kecil untuk dimasukkan nilai-nilai tauhid oleh orangtuanya. Banyak anak bertanya mengapa matahari timbul di siang hari tapi tidak di malam hari. Kenapa pohon kelapa tinggi, sedangkan pohon yang lainnya pendek. Bayangkan banyak dari kita menjawab secara ilmiah untuk anak sekecil itu. Maka menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, Syekh Muhammad Quthb memberikan jawaban yang sangat bagus sekali, ‘Begitulah Allah menghendakinya’.

Kalau ilmu sudah dimiliki ia akan bisa menerapkannya. Ilmu itu yang akan menutup syahwat. Kalau syahwat sudah bicara, maka Ilmu akan tertutup.

Surat Al Ahzab ayat 33 misalnya, faqorna fii buyutikun, menetaplah kalian para wanita di rumah kalian, siapa yang mau menerima ayat itu seutuhnya? Hiks.. dalem banget. Yang terjadi saat ini sebaliknya. Para wanita lebih banyak waktunya di luar rumah.

“Kata Nabi kita, jangan pernah meremehkan anak-anak, karena ribuan bahkan jutaan hikmah, nasihat, dan pelajaran hidup datang dari suara hati anak-anak. ”

Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah/ amal jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim).

Dikutip dari :

1.  http://thisisgender.com/budi-ashari-lc-menghidupkan-kembali-parenting-nabawiyah/#ixzz22cnS4PZw

2. Artikel Firman Juliansyah di Kompasiana.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s