Masa kecil @Kuningan

Masa kecilku dulu, sering mudik ke kampung halaman ortu. Kota Kuningan nan sejuk di kaki gunung Ciremai jadi dambaan setiap liburan sekolah atau lebaran. Kakek-nenek dari mama maupun bapak masih lengkap. So, sayang banget kalo moment itu terlewatkan. Seingatku pernah ngambek gak mau makan ketika tak diijinkan untuk mudik. Tak mau tahu apa kendalanya, yang pasti itu bikin aq kesal maka mogok makan aja. Walhasil, mama tak tega dengan ulahku seperti itu. Akhirnya diberi ijin untuk mudik. Yes, akhirnya protesku berhasil. Kuningaaan.. I’m coming.

Dulu waktu tempuh ke Kuningan sekitar 6-7 jam tapi kini bisa lebih cepat setelah ada tol cikampek. Meski belum ada tol, aq menikmati sekali perjalanan panjang itu karena no macet. Kendaraan masih jarang. Disamping moda angkutan kereta api juga bisa menjadi pilihan karena lebih murah harga tiketnya. Aq sendiri lebih suka naik bus karena kalo naik kereta tidak praktis, hanya sampai cirebon lalu nyambung lagi sekitar 1-2 jam dengan bus. Enjoy my trip ūüôā

Nuansa desa masih sangat terasa karena dulu masih belum ada listrik. Petromax, lentera dan damar jadi alat peneranagan di malam hari. Di depan rumah nenek dari bapak, hamparan sawah nan luas. Duduk di teras sudah pasti menikmati sejuknya angin desa. Main di pematang sawah, tercebur atau menceburkan diri di selokan untuk pengairan sawah. Belok2an / bermain lumpur sawah. Seru abis bersama para sepupu. Asyik banget. Pernah sekali waktu melihat si kaki seribu besar banget, hiiiii… takut, mau lari tak bisa karena kaki dalam lumpur sawah, nyaris nangis karena ketakutan. Sepupu yang lain tertawa2 melihat ketakutanku. Menurut mereka kaki seribu tidak berbahaya. Mana kutahu.. karena baru pertama kali lihat itu, kupikir akan seganas lintah menghisap daran.

Siang setelah lelah bermain, hidangan sudah siap. Ikan gurame goreng dari kolam kakek jadi menu istimewa bagiku. Kadang ditambah dengan lalapan mentah kol, sawi hijau atau ketimun. Lahap sekali makan disana. Nuansa  desa yang dingin lebih cepat memicu perut lapar. Kadang dilanjut dengan camilan. Yang khas disini adalah kalentong gula merah (kripik singkong dipotong memanjang), keripik pisang gula merah, rengginang dan kuping sendok (seperti rempeyek namun bentuknya tidak bundar lonjong seperti kuping dan dibuatnya sesendok2).

Usai itu baru dipaksakan mandi. Hiiiiii… sumpah dingin banget. Tubuh terlihat beruap saking dinginnya. Maklum berada di kaki gunung ciremai. Dari rumah nampak jelas banget gunung itu. Air di kamar mandi langsung dialirkan dari gunung melalui pipa2 yang diusahakan penduduk desa dialirkan kerumah2 warga. Jadi gak ada matinye tuh air ngalir. Pernah karena polosnya, teriak ke nenek minta dimatikan kran dari sumbernya karena air luber tumpah ruah. Sayang banget air dibuang2. Berasa banget sayang karena di kota air pun harus beli atau mompa dulu baru dapat airnya. Nenek hanya tertawa dengar teriakanku.

Usai mandi, sholat dzuhur di surau diatas balong. Balong atau kolam ikan besar, ternak ikan gurame milik kakek. Surau itu juga dekat kebun dan sawah, maka jadilah selesai sholat rebahan sebentar dan tertidur karena semilir angin kebun meninabobokanku.

Saatnya malam, agak takut dengan gelapnya. Maka biasanya lampu petromax diletakkan di ruang tengah, ruang kumpul keluarga. Biasanya kakek melakukan aktivitas membaca Quran persis di depan lampu itu sambil bersuara keras. Di luar hening, di dalam terdengar lantunan ayat2 suci alquran suara kakek. Usai itu makan malam sederhana, karena setelah itu lanjut ngobrol dan tidur. Saat tidur harus berselimut karena dinginnya udara malam. Kadang saat baru tiba susah untuk tidur apalagi nyaring terdengar bunyi tokek. Serem dengar itu di keheningan malam. Aq dipeluk nenek dan diusap2 kepalaku supaya aq bisa cepat tidur. I love you nek, unforgettable moment with you..  I love you kek, masih sangat hafal suaramu saat melantunkan ayat suci, I miss you.. Semoga kakek-nenek bahagia disana.

Seru2an setiap hari bersama para sepupu. Saat bosan dirumah nenek, minta diantar kerumah uwak. Di desa lain, Desa Padarek, cukup jauh dari rumah nenek. Ada angkutan pedesaan namun masih jarang, waktu tunggu dari satu angkutan ke angkutan berikutnya sangat lama. Maka diputuskan untuk berjalan kali melewati kebun2 singkong, durian, rambutan dll. Seperti berpetulang di kebun orang. Gak boleh petik2 buah milik orang lain. Karena sambil ngobrol sepanjang jalan maka tak terasa sudah sampai rumah uwak. Uwak pandai dalam segala hal kerumahtanggaan. Mulai dari menjahit, border, bikin kue, masakan dll. Orangnya sigap banget. Nampak sehat selalu. Semua makanan yang ada di topless nya adalah hasil karyanya. TOP BGT deh. Jempol buat uwak. Kerasan main di tempat uwak. Disini pertama kali aq makan dendeng ikan gabus kecil lalapan sawi hijau. Nasi-nya yang bikin beda. Setelah dikukus, nasi-nya dikipas2 atau di-akeul sambil dibolak balik dengan sendok nasi. Sehingga adem siap dimakan. Nasi menjadi lebih pulen rasanya. Hanya dengan menu itu saja, makanku bisa mindo/nambah jadi dua piring, ckckck.. badan kurus tapi doyan makan J

Usai makan nikmat itu langsung pamit, balik lagi kerumah nenek. Lewat kebun lagi, harus bergegas kuatir kesorean nanti terdengar bunyi tonggeret, khas dari kebun. Kembali menikmati malam dirumah kakek, yang terpencil menyendiri dari penduduk lainnya.

Saat malam kadang iseng main kerumah sepupu dekat rumah kakek. Pakai damar, lampu minyak tanah, bersumbu terbuka tak pakai semprong seperti lampu teplok. Akibatnya asap hitam membumbung, jika tak hati2 asapnya masuk lubang hidung, lubang hidung menghitam. Tak lupa kakek membawa senter besar agar lebih jelas melalui jalan setapak. Kala musim hujan, ini lebih repot karena tanah merah yang dilalui becek, menempel di sandal, sehingga sandal menjadi berat untuk melangkah. malam yang indah, masih asli dengan bunyi2an alam sekitar.

Main kerumah nenek dari mama. Tak kalah seru disana. Dibelakang rumah nenek ada kandang sapid an kambing. Kakek dan paman berjualan daging sapi dan kambing di pasar. Pemotongan hewan dilakukan di dapur yang bersebelahan dengan pancuran air dan kamar mandi. Dini hari dilakukan pemotongan hewan, jelang shubuh langsung dibawa ke pasar di tengah kota Kuningan. Kakek tergolong berada dilihat dari jumlah ternak nya yang banyak.

Siang hari aktivitas yang tak pernah bisa dilakukan di kota. Ngangon kambing ke hamparan rumput agak jauh dari rumah nenek. Berjalan bersama para sepupu sambil bawa 4-5 ekor kambing untuk di angon. Aq lah si gembala domba. Hehe.. seru banget. Agak repot mengarahkan jalan si domba menuju hamparan rumput karena lewat kebun2 singkong sehingga si domba yang sudah kelaparan, iseng makan tanaman di kebun orang.

Ternyata seru juga angon domba. Rebahan di rumput sambil memandangi rumput nan hijau, seskali menghitung jumlah domba, jangan sampai lepas satu, bisa dimarahi kakek jika hilang satu. Tak sengaja melihat ulah si domba. What ? sedang apa dua domba itu ? domba satu menaiki domba lain dari belakang. Tiba2 ada yang keluar dari kemaluannya, merah panjang. Aq tarik sepupu ku untuk juga menyaksikan itu. Kutanya sepupu sedang apa itu. Hahaha.. dia tertawa terbahak atas kepolosanku. Dia bilang domba itu sedang kawin ya begitu itu. Hiiii… oh gitu toh kalo domba kawin. Pantaslah aq gak tahu, baru kali ini lihat domba kawin. Dengan itu domba2 beranak pinak.

Kalo pas ada domba/kambing yang menyusui, kadang susunya diambil. Direbus lalu diberi gula sedikit maka siap diminum oleh cucu2 yang datang kerumah nenek. Gurih banget rasanya. Enak juga. Yang khas lainnya dirumah nenek adalah serabi isi daging (pizza  jadul), cuing (cincau gula merah), rujakan rame2 di siang hari di kebun nenek, masakan sop kaki kambing di malam hari. Maknyusss.. semua masih terekam dalam ingatan. Nenek cantiq makasih ya..  sudah siap sedia bumbu rujak dan papaya mengkal ketika tahu aq akan mudik. Wujud rasa sayang pada semua cucu nya. Kakek baca qurannya nyaring banget setiap selesai waktu sholat wajib. Nyaringnya terdengar di semua ruang di dalam rumah. Suaranya khas juga senyumnya. I miss both of them. Semoga keduanya mendapat tempat mulia di sisi-Nya. Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s