Sampah

Banyak nyamuk dirumahku.. gara2 kamu malas bersih2. Banyak sampah dirumahku.. gara2 kamu malas buang2. Sampah dapur tak seberapa banyaknya karena biasanya ke pasar hanya sekali seminggu untuk kebutuhan makanan seminggu.

Bongkar2 tumpukan plastik di sudut rumah. Dijembreng satu2. Subahanalloh, pakaian anak2 semasa kecil. Tak terasa ya anak2 sudah besar. Pakaian2 itu sepertinya belum lama mereka pakai, sudah waktunya diganti. Yang lama dan tak muat lagi ditumpuk dan ditumpuk. Dilempar kemana ? Kalo yang masih bagus2, lungsur ke ponakan, tapi itu dulu. Kalo sekarang ponakan juga ogah pake baju bekas gitu. Akhirya jadi numpuk begitu. Kemarin aq juga lungsurkan beberapa pakaianku dan husband, kebetulan pas si teteh mau mudik, jadi dibawanya ke kampung untuk dibagi2 disana. Lumayan masih bisa disalurkan ke pihak lain yang membutuhkan.

Bawa beberapa kantong plastik penuh dengan baju bekas. Di lempar ke penampungan sampah di pasar. Sebenarnya sayang itu, karena akhirnya bercampur dengan sampah pasar. Mau gimana lagi ? Andai ada baksos setiap saat, bisa tuh disalurkan kesana. Sayangnya moment itu jarang banget. Tapi ternyata itu tak lama. Saat selesai belanja di pasar, ternyata tumpukan sampah pakaian bekas itu sudah lenyap. Mungkin sudah dibawa oleh pengais sampah yang membutuhkan.

Benahi rak sepatu, sepatu2 lawas masih bertengger di rak. Anak2 sudah tidak lagi memakainya, ukuran sepatu sudah bertambah. Dipilah dipilih yang masih sering dipakai dan yang sudah usang bulukan. Dapat satu plastik besar. Siap juga dilempar ke tong sampah.

Bongkar2 laci excel, duh banyak mainan anak2 yang sudah tak pantas dimainkan lagi oleh anak2. Diberikan ke siapa ya ? Mana mau dengan mainan bekas gitu, kondisinya macam2, ada yang masih bagus, banyak pula yang sudah usang dan berdebu, Dikumpulkan dalam kantong plastik besar, siap untuk dilempar ke tong sampah.

Bongkar box buku, duh penuh banget dengan buku2 komik berseri yang rutin dibeli anak2 saat mereka kecil. Sekali beli langsung habis dibaca sehari. Setelah itu tidak disiplin menaruh di tempatnya. Kadang ditemukan dibawah kolong kasur atau lemari. Dasar bocah susah ya mendidiknya untuk disiplin dan menghargai barang yang sudah dibeli. Tumpukan box buku ini enaknya dibawa kemana ? Pernah terfikir untuk disumbangkan ke perpustakaan sekolah. Tapi buku pelajaran hanya sedikit, yang banyak adalah buku komik mulai dari Conan, Miko.dll, aq tak hafal karena banyak macamnya. Mau dibuat perpustakaan pribadi, tak ada ada lagi ruang kosong untuk itu. Ikhlaskan dilempar ke perpustakaaan, nanti setelah liburan.

Lantai atas bagian luar tak kalah berantakan. Ada papan bekas dipan tak terpakai.Ada 2 sepeda anak2 saat kecil. Ada juga fiber bekas awning lama. Duh, kesal lihat itu. Sudah bilang berkali2 ke husband untuk dibenahi atau dibuang jika tak dipakai lagi. Dia belum sempat, kalopun ada waktu libur, biasanya full istirahat, tak ada waktu untuk benah2 itu. Sepertinya harus aq yang turun tangan. Seperti halnya kemarin. Di dapur dindingnya tak rapi, maka aq cat sendiri karena tukang yang datang kemarin hanya disewa 1 hari, si tukang mau mudik. Ternyata asyik juga nge-cat tembok meski hasilnya tak se-rapi si tukang. Yang penting terlihat jadi lebih bersih karena pakai cat putih.

Tak jauh dari rumah ada lahan kebon kosong punya orang lain yang dipagar sekelilingnya. Lama kelamaan pagarnya lepas sedikit demi sedikit. Akhirnya jadi lebar. Entah siapa yang mulai duluan untuk buang sampah di lokasi itu, sehingga diikuti oleh yang lain sampe akhirnya sampah menggunung. Maka itupun jadi tempatku buang sampah. Daripada jauh mesti buang di pasar.

Bagaimana cara mengelola sampah rumah tangga ? Aq ingat betul, saat aq kecil dulu, ada tukang keliling tukar barang dengan pakaian bekas. Jauh2 hari mama sudah memilah pakaian yang akan dilempar. Dapat se-sarung, karena ditumpuk diatas sarung lalu ujung2nya dipertemukan dibundel dalam ikatan besar, bundelan pakaian bekas siap untuk ditukar barang. Banyak macam barang yang  bisa dipilih sesuai kebutuhan. Mama sering menukarnya dengan panci, baskom atau wajan besar. Lumayan sampah tertangani dan dapat barang baru pula. Tak pernah itu dijumpai di masa kini. Yang ada namanya tukang rongsokan barang bekas tidak termasuk pakaian. Di tukar dengan uang / piring /mangkok.  Jadi deh nimbun piring-mangkok di dapur.

Sampah dalam satu rumah problemnya seperti itu. Gimana dengan satu RT, satu RW, satu kelurahan, satu kecamatan, Satu propinsi ? Tak terbayang.. jangan sampai tertimbun oleh sampah-nya sendiri. Sudah dilakukan pemilahan tong sampah organik dan non organik. Langkah ini sepertinya jadi mandul, karena penanganan selanjutnya tak ada. Ujung2 nya sampah itu dijadikan satu. Tempat Penampungan Akhir Bantar Gebang pernah menjadi problem, namun akhirnya bisa lagi digunakan sebagai TPA. Di Leuwi Gajah juga pernah terjadi manusia tertimbun oleh sampah. Sampah yang menggunung, tak kuat lagi menahan desakan, akhirnya menimbun si pengais sampah yang sedang bekerja.  Sampah.. oh.. sampah.. betapa perlu penanganan serius masalah sampah.

Iklan

2 thoughts on “Sampah

  1. Sampah itu sumpeh. Makanya jangan sampai bikin potensi sampah nambah. Belanja sebaiknya bawak wadah sendiri. Baju jangan beli kalau tidak benar2 diperlukan, jangan nafsu memiliki tapi akhirnya mubazir. salam tuk ibu yg manis. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s