Metamorfosis

Metamorfosis anak2 dari artis Indonesia bisa disaksikan langsung via infotainment tv swasta. Wow.. sudah pada besar ternyata ya, bukan anak2 lagi, sudah bujangan. Sudah usia SMA namun badannya bongsor seperti anak kuliahan. Lho, anak2 ibu juga sudah pada besar, persis tiga anaknya kaya anak2 ibu, cuma dia laki2 semua sementara ibu perempuan semua, hehe.. tanggapan spontan si teteh yang baru balik dari mudik. 

Kemarin sempat upload foto2 lebaran yang sempat dibuat aplikasi pizap untuk cover fb. Langsung dapat komentar yang persis seperti di atas dari seorang teman. Benar juga, mungkin orang lain di luar sana yang benar2 bisa melihat metamorfosis-nya anak2ku. Tapi kalo orang dalem sendiri kadang tidak sadar akan perubahan itu, menganggap anak2 ya tetap anak2 yang belum besar 

Sama takjubnya ketika pekan lalu beres2 isi lemari pakaian. Menumpuklah pakaian anak2 semasa kecil, akhirnya dipindah ke tempat lain, supaya lemari bisa diisi dengan pakaian ukuran baru. Anak2 bermetamorfosis pula dalam ukuran dan mode pakaian. Tak bisa lagi kutentukan sendiri untuk mereka. Untung si tengah jadi pengamat mode, sehingga si sulung dan si bungsu cenderung minta pendapatnya dalam hal mode dan warna pakaian. Makanya untuk shoping pakaian si tengah jadi andalan.

Dalam hal pola pikir sudah pasti berbeda dengan dulu. Kini lebih banyak diskusi dulu untuk memutuskan sesuatu. Kuatir gak cocok dengan selera dan gaya mereka kini. Asyik juga ternyata mengikuti metamorfosis mereka. Apalagi melihat si bungsu yang kini tinggi badannya hampir sama denganku. Juga sikap-nya yang sudah lebih dewasa sedikit. Kadang sudah tak mau dia kucium pipi-nya karena gemes. Bungsu-ku belum haid, masih bisa terus tumbuh dan berkembang tubuhnya. Kalo dari posturnya, mirip aq dulu, tak bisa gemuk, cenderung kurus kerempeng. Meski dalam hal makan sama dengan lainnya. Entah kemana larinya apa yang dimakan hanya untuk tumbuh ke atas, bukan ke samping. Hiii… ogah ! aq gak mau tumbuh ke samping, komentar si bungsu.

Kalo lihat si sulung juga takjub, karena dia selalu pilih2 makanan. Menu makanan dirumah seringkali tak sesuai dengan seleranya. Kadang tak terkontrol makannya jika menu tak selera. Kuatir saja kena maag. Namun susah sekali dinasehati tentang itu. Kadang maunya sendiri yang diikuti. Takjubnya, dalam kondisi seperti itu, tubuhnya tetap bertambah tinggi namun seperti tak berbobot, kurus kerempeng, tak seimbang antara tinggi dan berat badannya. Namun begitu, alhamdulillah jarang sakit, kecuali batuk atau flu ringan. Ada nilai positif yang dirsakan ketika dia sudah diasrama. Disana dia tak bisa pilih2 makanan, beli yang ada di warung, kalo pilih2 maka butuh waktu dan tenaga untuk cari2 di warung lain. Makan teratur tanpa harus diperingatkan. Syukurlah akhirnya kamu temukan sendiri manfaat makan teratur, ketimbang sakit, maka gak bisa mengikuti kegiatan di kampus.

Pola makan yang pas atau mirip denganku si tengah. Apa yang aq suka, dia pasti suka. No comment dengan makanan yang penting bisa dimakan. Asyik2 aja dengan si tengah ini. Cenderung memudahkan urusan orang. Gak mau ribet urusan makan. Kalo ditawari mau makan apa ? Seringkali jawabnya : terserah. Apa aja mau katanya. Kadang aq desak dia untuk tetapkan satu pilihan, dia jawab : bingung abis yang ditawarkan semua disukai, masa mau dipesan semua ? Hehe.. dasar bocah. Bener juga, sebab hanya boleh pilih satu pilihan.

Metamorfosis dari husband, apa ya ? Uban tambah banyak. Wajah, tinggi badan tetap. Hanya perutnya buncit yak ? Bagaimana cara kurangi itu ? Fitness dong. Kapan ya dia sempat ? Paling2 hanya sempat badminton di kantornya seminggu sekali. Jalan sehat denganku seminggu sekali. Sebulan puasa kemarin full libur tak lakukan itu. Untuk hobi ngemil-nya yang mungkin bikin perutnya ndut. Kalo porsi makan, bisa jadi lebih sedikit ketimbang porsi makan anak2nya. Entahlah, salah strategi sepertinya. Harusnya ngemilnya dikurangi, porsi makan ditambah dikit. Sehingga saat sudah kenyang, biasanya malas ngemil lagi. Untuk bahan makanan yang    bisa menyebabkan penyakit, cenderung lebih disiplin dia ketimbang aq untuk itu dihindari. 

Untukku metamorfosisnya sudah pasti, lebih ke samping. Ini membuat raut wajah katanya berubah menjadi melebar. Hahaha.. parah bener. Efek turun mesin 3x ya seperti ini jadinya. Halah, alasan banget. Cuma bisa iri dengan teman SMA dulu yang hingga kini posturnya masih tetap seperti yang dulu sebelum punya anak. Duh, koq bisa ya ? Waktu masih punya anak dua, berat badan hanya naik 6 kg dari 47 kg. Tapi kini.. hush gak usah ditulis disini. Ampun banget dah naiknya. Disyukuri saja meski berubah banyak, tetap sehat2 aja. Semoga sehat terus. Mungkin karena rajin aerobic ya (setahun lalu). Janji hati, abis ini mau di-rajin-kan lagi aerobicnya. Karena berasa banget bedanya. Sekarang2 ini setelah lama berhenti aerobic, seringkali asma-ku kambuh. Juga sering berasa capek meski aktifitas biasa2 saja. Kalo masalah uban sepertinya balapan dengan husband. Meski sudah pernah dicoba untuk dikurangi dengan warna coklat, alhasil, sekarang malah jadi tiga warna hitam, putih dan coklat. Serunya metamorfosis…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s