Laksa Betawi

Segarnya minggu pagi. Keliling naik motor sampai ke kawasan jalan juanda. Setiap minggu pagi ada pasar kaget / pasar tumpah. Banyak macam kebutuhan dijual disini. Mulai dari makanan ringan hingga makanan berat. Pakaian lokal maupun import. Perabot rumah tangga hingga kendaraan bermotor. Semua tumplek blek disini. Seru aja lihat2, awalnya. Lama2 kalo suka ya beli juga sesuai kebutuhan.

Sudah lama pingin punya tikar bambu (lampit) sesuai ukuran ruang tengah. Waktu itu masih belum ada ukuran yang pas. Begitu ada ya langsung aja tawar menawar, deal, bungkus bawa pulang. Lanjut keliling, berharap ktemu penjual donat langganan, kesukaan anak2. Sayangnya, belum jualan, mungkin masih mudik. Yo wes lanjut lagi, cari kaos untuk si bungsu seperti punya si kakak, sayangnya si pedagang juga belum jualan.

Berhenti di penjual Laksa betawi langganan. Sebulan off tak bisa menikmati ini, lepas kangen dengan laksa. Coba tawarkan penghuni rumah yang lain. Setuju coba itu. Menikmati laksa seporsi, cukuplah sebagai sarapan minggu ini. Tak pernah temukan ini di tempat lain, makanya menu yang beda wajib dinikmati. Potongan ketupat, bihun, toge, daun kemangi, tahu kuning kukus, oncom dipotong kasar, telur rebus, diberi kuah santan kuning yang bumbunya diberi ebi. Segar karena aroma kemangi juga toge setengah matang. Diberi taburan bawang goreng dan kerupuk. Siap disantap, lebih sedap lagi kalo pedas :).

Makan Laksa ini jadi teringat dulu masa SMA kelas 1. Moment ultah sekolah entah yang ke-berapa tahun, ada pesta bazar di sekolah. Tiap kelas wajib membuka stand sendiri menjual makanan, minuman atau lainnya. Ide menjual laksa kalo nggak salah dari sang ketua kelas karena kebetulan dia asli betawi. Dia menyanggupi untuk    menyiapkan itu dari rumahnya. Jadilah kita sepakat untuk jualan itu.

Stand sudah siap setelah resmi dibuka oleh kepala sekolah. Di kunjungi satu per satu setiap stand yang ada. Stand kami termasuk yang paling banyak dikunjungi karena menu khas ini. Dalam sekejap, laris manis habis semua. Alhamdulillah, meski lelah dan repot melayani pembeli namun puas karena dagangan habis.

Kelas 1-2, dulu diberi nama lain ‘one-second’. One-second setelah dikaji saat ini tak sesuai dengan kaidah bahasa. EGP.. ide nama itu muncul spontan, disetujui semua penghuni kelas, jadilah nama itu untuk kelas kami. One-second tak ada yang lain. Laksa betawi mengingatkanku pada kekompakan One-second :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s