Terhempas dari zona nyaman

Masa transisi di sekolah, berasa banget. Banyak ketidakjelasan dan ketidakpastian yang bikin suasana hati tak nyaman. Meski kegiatan rutin masih berjalan normal, kakuatiran pada kegiatan2 ke depan yang sudah disusun namun belum bisa dilaksanakan. Terkendala kebijakan setelah tanggal 20 september nanti.

Belum bisa dikucurkan karena juknis belum turun. Gerak jadi serba terbatas karena kondisi masih menunggu dan menuggu pasca tanggal itu. Menurutku hal itu sudah pasti akan dilaksanakan hanya timing nya belum pas, terkait pilkada. Kuatir berdampak pada pilkada. Karena ini merupakan kebijakan gubernur. Siapapun nanti yang akan jadi gubernur, kebijakan ini akan terus bergulir.

Sudah pasti setiap jiwa disini kuatir. Jika dari tak ada menjadi ada, itu bagus. Namun jika sebaliknya ? dari ada menjadi tak ada. Apa komentar mu ? Banyak sekali komentarnya. Meski besar kecil-nya relatif, namun ini sungguh di-arep-arep saat bulan sudah di penghujung. Lumayan, buat beli susu si ade, pampers si ade, baju si ade, deelel. Buat apa aja boleh, sebab itu rezki legal dan halal. Semua sama menikmati. Sangat merasakan asyiknya menikmati itu. Berasa banget itu membantu untuk bertahan hidup di kota besar ini. Awal dulu pertamakali hijrah kesini, aq pun kaget, wow, besar sekali. Lumayan buat ini itu saat kantong sudah menipis. Alhamdulillah rezki dari Allah, tak baik ditolak.

Sebelas tahun menikmati itu di setiap penghujung bulan. Menikmati itu memberi kenyamanan tersendiri, saat yang lain sedang menghitung hari, alhamdulillah masih bisa untuk ‘menopang’ bulan. Bilakah kenyamanan ini terganggu ?. Hari ini semua berasa pahit. Hari ini dan seterusnya, perlahan namun pasti kami bersama-sama terhempas dari zona nyaman. Gedebug.. Gubraaaaaaax…

Siapkan mental-mu. Bukan itu jadi tujuan. Kaget sudah pasti, fisik geleng-geleng, pasang wajah ‘palsu’.. tertawa dalam pedih, perih, pahit, Semoga kami diberi kekuatan untuk ikhlas, sabar dan lapang dada menerima putusan yang katanya ‘bijak’.

Bijak untuk siapa ? Meski sama dalam tugas mencerdaskan anak bangsa namun perlakuan tak sama kami terima, sejak dulu. Ini karena beda ‘atap’. Duh, gara2 beda atap, tak ada kebijakan buat kami meski peran kami sama berat dengan yang beda atap itu, namun legal mendapat segala fasilitas dan tunjangan dari daerah ini. Hmmm, terima nasib aja ya, beda atap meyebabkan semua kebijakan kesra tak sama untuk kami. Seharusnya kebijakan yang paling baru inipun ada pengecualian berlaku nya untuk siapa ? Seharusnya bukan untuk kami, karena kami memang beda atap. Jika itu memang harus dillaksanakan, seharusnya disertai dengan kompensasi yang pantas bahkan sama dengan rekan lain yang memang legal terima itu.

Siap-siap lebih pahit lagi ya. Siap-siap kencangkan ikat pinggang. Namun Yakinlah bahwa Allah pasti akan meluruhkan semua rezki-nya di langit dan di bumi dari pintu manapun, tak terbatas pada beda atap..  Aamiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s