Wajan Gedhe banget

Mampir sejenak di pertokoan oleh-oleh dekat lokasi penginapan. Pilih-pilih makan camilan untuk oleh-oleh yang disukai anak-anak. Ada kripik dan krupuk. Kripik singkong, pisang, ubi, tahu, tempe, bayam dll. Krupuk kulit, krupuk ‘miskin’ dll. Sale pisang basah, krispy, keju, roll dll. Wah laper mata nih, bingung juga pilih-pilihnya.

Mochi dua rasa, kripik singkong super pedas, buat si tengah. Krupuk kulit dan presto bandeng buat husband, Kripik pisang buat si bungsu, jipang dan sale pisang keju buat si teteh. Sale pisang spesial buat rekan kerja. Sambil pilih-pilih sale pisang, lihat proses goreng kripik bayam. Waow.. wajan nya gedhe bangeeet.

Hiiiiii… langsung bergidik dan segera beralih ke tempat lain. Why ? Ono opo toh ? Gpp koq. Cuma terkesiap saja membayangkan ‘itu’. Itu opo ? Itu lho, si wajan gede itu pasti muat buat si baby kecil, sekiranya terpeleset ke dalamnya. Entahlah, tiba-tiba saja pikiran konyol itu muncul. Duuuh gusti Allah jangan sampai itu terjadi pada baby siapapun. 

Setelah laper mata terpenuhi, lanjut perjalanan pulang. Tak jauh dari tempat itu ternyata teman semobil ada yang melihat toko penjual wajan gedhe itu. Sengaja tak ikutan lihat itu. Lagi-lagi terkesiap seperti tadi. Ternyata  fikiran temanku sama. Dia memikirkan itu juga, hanya dia berani ucapkan itu, sedangkan ku hanya berani dalam fikiran saja.

Tiba-tiba teman dibelakangku menyahut. Lha itu kejadian saya waktu kecil.  Maksudnya ? Dia bertutur, sekitar usia tiga tahun, saat jelang hari raya idul fitri, kemuarga besar selalu membuat makanan khas akar kelapa. Proses menggorengnya pakai wajan gedhe seperti itu. Sedang proses menggoreng di belakang rumah, dia main-main dekat wajan itu daaaan,,, byuuur, dia nyebur bersama akar kelapa itu. Masya Allah, ternyata apa yang kubayangkan sudah terjadi pada temanku sendiri. Dia perlihatkan luka tetap di lengan kanan-kirinya, mungkin bekas luka melepuh dari baju yang melekat di badan, dipaksa dibuka sehingga membuat guratan lipatan kulit yang menetap. 

Ibunya merasa bersalah yang mendalam atas tragedi itu, karena nyaris nyawanya hilang jika tak segera dibawa ke mantri terdekat. Ibunya nyaris bunuh diri karena rasa bersalahnya itu. Untuuung gak jadi, karena ternyata Allah masih sangat sayang padanya, hingga kini dia sehat walafiat bahkan sudah memberikan seorang cucu perempuan untuk ibunya,

Trauma mendalam hingga kini dan mungkin sepanjang hidup ibunya, tak akan ada lagi bikin kue pakai wajan gedhe itu apapun itu, apalagi untuk memakan kue akar kelapa. Kue itu mengingatkan peristiwa paling buruk dalam hidupnya. Ya Allah jangan sampai itu terjadi pada bayi manapun kapanpun, cukup itu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s