My baby in November

Bungsu-ku lahir tiga november dua ribu. Awal abad milenium nambah satu momongan. Proses melahirkannya paling lama dibanding kedua kakaknya. Kontraksi sudah dirasakan sejak pukul sembilan malam. Sampai di rumah sakit diperiksa ternyata baru pembukaan dua. Lanjut terus mulas tak henti hingga dini hari. Atur nafas supayaberkurang rasa mulasnya. Tak tidur semalaman karena saat mulai mengantuk, mulas itu datang lagi, hanya bisa berbaring sambil atur nafas.

Pagi hari belum juga ada tanda penambahan pembukaan, masih stag di ‘buka dua’. Koq nggak nambah ya ?. Melintas seorang ibu yang sedang jenguk familynya di rumah sakit. Tanpa basa basi, dia ngoceh sesuka hati, menyarankan untuk langsung di operasi caesar saja, kuatir baby-nya bahaya karena sudah satu malam tk ada perubahan pembukaan. Duh, bikin hati nyer2-an. Masuk ke ruang periksa, oleh bidan dinasehati, tak usah pedulikan ocehan orang itu, still yakin aja bisa proses lahiran normal. Langsung diberi suntikan, kontraksi makin menjadi, mulai ada perubahan pembukaan namun belum sempurna.

Akhirnya sampai jelang sholat jumat belum juga pembukaan sempurna. Husband ijin untuk sholat jumat. Kumohon didoakan kelancaran proses persalinan. Bismillah.. Allohu Akbar.. akhirnya my baby lahir juga. Duh, sayang.. kenapa betah banget didalam sana. Persis adzan jumat dia lahir. Normal, lengkap, alhamdulillah, sakit nyeri dan sebagainya hilang seketika setelah mendengar tangisnya.

Sulung-ku lahir enam belas november sembilan empat. Proses kelahirannya tergolong cepat meski sudah diberitahu sejak usia kandungan delapan bulan bahwa my baby dalam posisi sungsang. Bidan yang memeriksa memberi keyakinan bahwa dia sudah sering membantu proses persalinan posisi sungsang. Yakin dengan pengalaman beliau, maka pede aja persalinan normal. Jika harus dioperasi tak sanggup untuk membayar biaya operasinya. Maklum nasib pns jaman dulu, disamping kami juga masih dalam masa kuliah.

Meleset delapan hari dari perkiraan kelahiran. Pas siang itu kakak-ku datang menjenguk untuk melihat kondisi-ku. Tanya tentang perkiraan lahir, iseng kujawab pingin banget malam itu lahiran. Kalo Allah berkehendak ingin sekali melahirkan malam itu karena sudah mulur delapan hari, deg-degan juga ya.

Tepat jam dua belas malam perutku kontraksi. Ada bercak darah di pakaian dalam. Bersiap ke klinik persalinan dekat rumah. Bidan siap siaga. Kontraksi terus sampai jelang shubuh. Tiba-tiba mata ngantuk tak tertahan. Bidan berusaha menghibur dengan menceritakan kembali ceramah agama yang pernah dilihatnya di tv. Sedikit termotivasi dan tambah tenaga setelah diberi racikan madu-telur ayam kampung. Mengingat my baby yang ingin segera keluar, ada kekuatan luar biasa untuk nge-push sekali berasa ketuban pecah dan ada yg keluar, kaki dan bokongnya, lanjut sekali lagi untuk kepalanya, titah bidan. Tepat jam enam padi berasa plong banget. Peluh, lelah, nyeri, sakit semua sirna tergantikan dengan tangisnya. Alhamdulillah my baby sudah lahir, lengkap sehat normal, meski lahir dengan posisi sungsang.

Selang 6 tahun 13 hari antara si sulung dan si bungsu. Ada sedikit kemiripan wajah dan sifatnya. Namun tetap dengan dua pribadi yang berbeda. Tak akan ada yang sama persis meski dilahirkan dari rahim yang sama. I love you.. my baby. Semoga menjadi anak sholihah dan bermanfaat bagi umat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s