Kangen nulis

Kangen nulis :). Meski hanya sekedar celoteh keseharian.Sebenarnya banyak ide untuk menulis menguap begitu saja karena banyak hal lain yang antre dikerjakan. Peran ganda masih coba bertahan untuk dilakukan. Saran teman untuk segera cari pengganti, masih jauh difikirkan. Masih coba menikmati ‘no stranger’ in my house. Asli menikmati ini. Meski sudah nampak bekasnya, apa tuh ? jari jemari bergantian lecet dan koyak kecil. Sakit dikit aja, dibawa kerja juga hilang sendiri sakitnya. Semoga masih terus bertahan, hanya terus fikirkan cari solusi lain.

Satu pekerjaan yang paling berat adalah cuci pakaian. Sungguh menguras tenaga, meski sebenarnya baik untuk body, karena berkeringat meski tanpa aerobic. Lelahnya berasa banget.  Mesin cuci yang ada hanya pengering nya yang berfungsi, selebihnya dilakukan manual. Yups, berarti sudah waktunya di-lem kuning. Cari-cari yang otomatis, sekali pencet, tinggal jemur. Ini satu solusi lain itu. Siiip bungkus deh.

Pengakhiran semester dengan olah raport. Ada tim yang menangani itu, namun tetap perlu untuk mendampingi. Prosesing nilai hingga jadi leger perlu dibantu agar lebih cepat ke proses cetak. Alhamdulillah tepat waktu, siap dibagikan. Lega, bisa liburan dengan tenang.

Lagi-lagi kepikiran, liburan kemana ya ? Pingin banget ke Dieng, namun cuaca sepertinya tidak mendukung. Kuatir sia-sia ketika kesana ternyata banyak view bangus namun tidak bisa dikunjungi karena kendala cuaca. So, mau kemana jadinya ? pertanyaan berulang dari si bungsu. Belum ketemu jawabnya.

Sepertinya enak juga full dirumah. Full jadi IRT, semuanya nyalira dikerjakan. Benah-benah kamar dan bikin cantik semua sudut rumah. Rencana lama untuk renovasi pagar belum terwujud, cari tukang nya yang susah. Nunggu lungsuran tukang dari mama. Maybe akhir bulan ini kelar disana dan bisa lanjut wujudkan pagar baru disini.

Pagi tadi terkuras emosi dan fikiran, akhirnya hanya bisa terisak. Kuluapkan sejenak dalam tangis, lega setelah itu. Maybe kesannya ini hal sepele, namun bagiku tidak. Kondite-ku diragukan ? Oh No.. Sudah segininya, masih dinilai kurang. Terimakasih untuk kritiknya, membuatku terpacu untuk bisa melakukan lebih. Namun sudahkah melihat lebih kedalam diri ? Sudahkah sempurna dalam segala ? Hanya Allah yang berhak menilai kesempurnaan setiap diri, manusia tak luput dari salah dan prasangka. Astagfirullohal adziem, semoga masih terus diberi kesabaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s