My little girl was ‘baligh’

Bungsuku sudah besar, dua belas lebih, kelas tujuh. Btw koq dia belum haid ya. Beberapa hari lalu sempat tercetus dalam bincang santai dengan anak-anak. Maybe memang belum saatnya. Kondisi fisik setiap anak memang berbeda.

Perkembangan fisiknya pasti terkait dengan pola makannya. Agak berbeda polanya dengan dua kakaknya. Agak sulit untuk mendisiplinkan makan lengkap gizi. Sangat pemilih makanan. Lebih ke vegetarian. Diet tak sengaja. Jika makan nasi dengan lauk, cukup itu, tanpa sayuran. Namun jika dengan sayuran, tidak mau pakai lauk. Sempat membuat geregetan si tengah. Kenapa siy gak dicoba dulu ? Sudah dicoba kakak, malah lama proses makan-nya. Yo wes, gak bisa maksa lagi, sing penting dia lengkap makan sehari tiga kali.

Jadi teringat masa balitanya. Jika dia sudah normal makan nasi seperti balita lainnya, maka janji dibuatkan syukuran kecil atas itu. Itu terlaksana saat dia berusia dua tahun. Entah salahnya dimana. Sejak usia boleh makan bubur, dia nggak bisa dengan bubur instan yang tinggal seduh, langsung siap santap. Dia lebih suka bubur beras merah buatan sendiri. Memang lebih bagus dan aman, bebas pengawet, namun agak repot saat bepergian. Bubur tidak tahan lama, terpaksa dipaksa dengan coba-coba bubur instan. Alhasil besoknya langsung sakit pencernaan, repotnya berlanjut, hingga pencernaannya normal lagi.

Coba diselingi buah jeruk, pisang atau pepaya. Gak mau itu, malah keluar semua isi perutnya. Karena menurut dia baunya gak enak. Duh, ampun deh, sensi banget inderanya. Kapok coba-coba buah, daripada bikin dia seperti itu. Maka wajarlah kalo tubuhnya paling kurus diantara lainnya. 

Bosan dengan bubur beras merah, coba-coba nasi putih diblender dengan sayuran sop. Eh, ternyata dia suka itu. Lanjut kebiasaan itu dengan macam-macam sayuran. Bahkan kadang dicoba dengan lauk ikan, daging atau ayam. Supaya mudah diblender maka diberi air sedikit dan ditambah garam. Itulah menu kesehariannya selain minum susu.

Proses menghabiskan makanan butuh perjuangan juga. Dia mau namun malas untuk mengunyah dan menelan. Jurus akhir adalah ‘dicekoki’. Sambil nangis tetap lanjut dicekoki makan sampai habis. Bagi sebagian orang yang lihat proses itu, menganggapku ‘terlalu’ memaksakan anak. Boleh saja bilang seperti itu, bebas berpendapat. Tapi hanya saya yang tahu apa yang terbaik untuk dia. Jika menuruti kemauannya tidak mau makan, kaya apa jadinya tubuhnya. Kurus kering tak terurus makan. Sementara ortunya ‘lemu’, lalu muncul komentar lain.  Hehe.. biasa deh, gak ada benernya. 

Alhamdulillah dengan semua lika-liku proses itu bungsuku saat balita tetap tumbuh normal dan sehat. Sakit terparah yang pernah dialaminya saat dia kena DB. Selama lima hari dirawat di rumah sakit. Berat badan turun drastis, ini juga efek dari ganti asisten saat itu. Untungnya cepat ditangani jadi cepat untuk pemulihan trombositnya. Cukup itu aja ya nginap di rumah sakit, nggak lagi, kapok kata dia, sebab jarum infus nempel terus kemanapun dia bergerak.

Hari ini genap dua belas tahun dua bulan delapan hari, bungsuku positif haid. Alhamdulillah akhirnya datang juga. Selamat ya sayang, resmi jadi seorang gadis. Hati-hati ya sudah baligh lho. Segala ibadah yang selama ini harus selalu diingatkan, besok2 harus lebih diingatkan lagi, Kalau kamu tinggalkan maka dosa sudah jadi tanggunganmu karena sudah masa balighmu. My little girl are menstruating. Be carefull my baby !

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s