Status Janda, Apakah Sebuah Aib?

Janda adalah sebuah status sosial. Sama halnya dengan “menikah”, “tidak menikah”, “duda”, “perjaka”, “perawan” dan kata sandang lainnya yang beredar di masyarakat.

Dalam mengarungi biduk rumah tangga, bukan tidak mungkin status itu “hinggap” kepada istri. Siapapun dia. Bisa karena perceraian ataupun karena meninggalnya suami. Tanpa pernah ia minta, tanpa pernah ia harapkan.

Ketika kita memberikan label tertentu pada sebuah status janda, tengoklah kembali siapa diri kita ini. Kenapa kita tidak bisa melihat seseorang karena kepribadiannya yang menarik, baik hati, suka membantu teman atau periang? Kenapa kita tidak menilai seseorang karena kepandaiannya memasak, menyulam, atau bahkan ilmu dan agamanya?

Status janda mestinya menyadarkan kita bagaimana beratnya wanita itu menafkahi dirinya dan keluarganya (jika sudah memiliki anak), bahkan sebagian masih juga harus menghidupi orang tuanya yang renta, atau membiayai sekolah adik-adiknya yang masih kecil. Berpikir bagaimana bisa berlaku profesional di kantor, bukan malah menggunjing, menyulut gosip-gosip iseng tentang kawan kerja yang seorang janda. Semestinya kita terus belajar dengan berkaca pada orang lain, karena di beberapa hal bisa jadi kita ini lebih beruntung. Atau bisa jadi, suatu ketika status itu menghinggapi diri kita tanpa terencana. Karena hari esok kita tidak tahu.

Saat terbersit di benak kita untuk memberi label “miring” atas status janda seseorang, coba bayangkan jika dia adalah ibu, adik atau kakak perempuan kita. Relakah kita jika mereka dipandang sebelah mata, dicibir dan “dianaktirikan” di masyarakat hanya karena dia janda? Tentu tidak, bukan? Dia hanya menjalani ketentuan Rabbnya. Sebagai bentuk ujian baginya, atau bahkan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepadanya. Seharusnya mereka para janda dibantu, dimotivasi dan diberi semangat. Bukan dipandang sebelah mata sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang belum mengenal dan mengerti kebenaran. Menggunjing, membuat gosip2 tak bermutu, atau perbuatan menyusahkan lainnya adalah ciri orang-orang yang belum mempelajari ilmu dien dengan benar. Jika tidak bisa membantu, maka diam adalah bantuan terbaik.

Mari tanyakan pada diri sendiri.
Dimanakah ilmu yang telah dipelajari? 
Dimanakah akhlak baik dan keteladanan pada para salafus shalih yang telah diberi petunjuk? 
Sudah amankah kita dari sikap sombong, lidah tak terjaga, merendahkan orang lain?
Siapa yang sanggup menjamin esok atau lusa, Wanita yang merendahkan kehormatan saudaranya tak akan mengalami hal serupa? 

Marilah kita gunakan lidah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan pertolongannya dengan menjauhi kecenderungan dan kebiasaan menggunjing dan ghibah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan:
الْـمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْـمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6484 dan Muslim no. 161)

Lihatlah ummahatul mukminin Radhiyallahu ‘anhunna, mereka kebanyakan janda. 
Lihat ibu-ibu para ulama, banyak yang janda pula. 
Lalu dimana keteladanan kita pada mereka yang jauh lebih dalam Ilmu agama dan pengamalannya? 
Janda bukanlah penghalang masuk surga. Dan belum tentu juga yang gadis ataupun istri lebih baik darinya di hadapan Allah ta’ala.

Apa yang kita banggakan bukanlah jaminan, karena Allah melihat ketakwaan seseorang, bukan melihat paras wajah dan status sosial kita.

Mampukah kita para istri dan gadis menanggung penderitaan, hinaan, perih dan getirnya hidup yang mereka rasakan?
Sebagian para gadis dan para istri yang mereka tahu mungkin serba tersedia, menerima dan meminta tanpa tau bagaimana sulitnya mencari nafkah, membagi, membelanjakan, dan menafkahi keluarganya. 

Semoga keangkuhan dan kesombongan tidak menjangkiti hati tanpa disadari. 

Persembahan untuk saudari-saudariku, akhowat dan ummahat yang diuji dengan status janda, dan yang sedang diuji dengan kebiasaan menggunjing saudarinya yang berstatus janda.

By: Alfyani Syahrin (diolah dari fakta sekitar dan beberapa referensi)

 
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s